Minggu, 26 April 2009

PENONTON YANG MENYENANGKAN

Aku pernah mendengar cerita tentang seorang pria bernama Henry Peterson, seorang Halfback (pelari bola) ranking empat yang tergabung dalam tim football Universitas Alabama. Posisi Henry amat rendah dalam grafik pemain sehingga ia hanya bermain beberapa kali selama bertanding dengan lawan yang enteng. Ini adalah tahun-tahun kegemilangan pelatih Paul “Bear” Bryant, pelatih football college terhebat pada zamannya.

Pertandingan persaingan panas Alabama setiap tahunnya adalah peperangan antar Negara-negara bagian pada akhir musim dengan Universitas Auburn Tigers. Beberapa hari sebelum permulaan pertandingan, Henry menerima telepon dari rumah: ayahnya mendadak meninggal. Henry menelepon pelatih Bryant dan berkata, “Pelatih, aku tak bisa menghadiri pertandingan hari Sabtu, Ayahku baru meninggal, jadi aku harus pulang.”

Bear Bryant, yang sedang di tengah persiapan pra pertandingan, merasa kasihan pada anak muda itu. “Nak, jangan pikirkan tim futball ini lagi, pulanglah dan temani keluargamu, mereka memerlukanmu.”

“Terima kasih, pelatih. Aku tahu Bapak pasti paham.”

Suatu ketika setelah pulang, Henry merasa harus kembali ke Tuscaloosa dan memakai seragam untuk bermain dalam pertandingan football Alabama versus Auburn. Sehari sebelum pertandingan besar itu, ia menelepon pelatih Bryant kedua kalinya.

“Pelatih, aku sudah memikirkannya, dan aku tak bisa mengecewakan tim ku. Aku akan datang kesana pada Sabtu siang.”

Pelatih Bryant tahu pria muda ini berhak bersama keluarganya saat mereka sedang berkabung. “Tidak, tidaklah masalah bahwa kau tidak mengikuti pertandingan. Kau bisa tetap di rumah akhir pekan ini.”

“Tidak, Pak, aku akan datang.”

Dua jam sebelum pertandingan Alabama versus Auburn, Henry menemui pelatih Bryant di kantornya. Pria muda itu duduk didepan pelatihnya dan dengan amat sungguh-sungguh, ia berkata, “Pelatih, aku ingin kau memberiku kesempatan membuka pertandingan hari ini.”

Pelatih Bryant mendongak dari catatannya, tidak yakin bahwa yang didengarnya benar. “Henry, ini pertandingan football Alabama versus Auburn. Aku tak bisa memberikanmu kesempatan membuka pertandingan hari ini. Kau tak pernah membuka futball apapun dalam sejarah Alabama.”

“Aku tahu, pelatih. Tetapi kau harus memberiku kesempatan itu hari ini!” Henry ngoto.

“Baiklah, Henry, begini saja deh. Aku akan memasukkanmu dalam rangkaian pertama first series of down. Kalau kau membahayakan tim futball Alabama, aku akan mengeluarkan mu dari pertandingan. Kau paham?”

“Ya, Pak.”

Ntah apa yang merasuki seorang fourth-string halfback sehingga bersikeras agar si pelatih memberikannya kesempatan membuka pertandingan terbesar musim ini? Mengapa seorang Pelatih legendaries menyetujuinya?

Kedua belah pihak pasti merasakan naluri-perasaan sama yang menyebabkan Gideon mempercayai Allah saat dia berkata, “Kau tidak perlu 10.000 orang untuk mengalahkan orang Midian. Kau hanya perlu 300 orang. Kau bisa menyuruh sisanya pulang.”

Gideon mematuhi Allah dan menghancurkan pasukan Midian dalam waktu beberapa jam.

Bear Bryant tidak menyuruh sisa tim football pulang sore itu, tetapi memang membiarkan Henry Peterson bermain menggila. Pria yang biasanya hanya duduk dibangku sajaberlari menghindari benteng Auburn, mencetak empat touchdown pada paruh babak pertama. Saat istirahat paruh babak pertama. Saat istiharatparuh waktu, Pelatih Bryant menemui Henry di ruang loker.

“Henry, aku tak tahu apakah aku harus mencium atau membunuhmu. Kau telah duduk di bangku selama empat tahun. Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa kau tahu cara bermain football seperti itu?”

“Pelatih”, jawab pria muda itu, “apa Bapak pernah melihat ku berjalan bergandengan tangan dengan Ayahku di kampus? Bicara padanya tentang gedung-gedung dan menceritakan padanya apa yang terjadi di kampus?”

Bear Bryant mengobrak-abrik benaknya. “Ya, kurasa aku pernah melihatmu dengan ayahmu satu atau dua kali.”

“Pelatih, Ayahku buta. Hari ini adalah hari pertama ia bisa menyaksikan aku bermain futball!”

Ada satu hal yang pasti. Kita semua yang menyebut nama Kristus “memainkan pertandingan” dihadapan mata Bapa kita di sorga. Amsal 15:3 menyatakan dengan jelas: “Tuhan melihat semua yang terjadi disegala tempat; Ia memperhatikan semua yang baik dan yang jahat.”

Tuhan melihat apa yang kita lakukan di muka publik, dan Ia melihat apa yang kita lakukan di tempat pribadi. Dan saat Anda sadar bahwa mata-Nya selalu tertuju kepada Anda, Anda punya motivasi kuat untuk menjalani hidup sebaik mungkin sesuai kemampuan Anda.

Tuhan mengawasi Anda di tempat kerja, dan Ia mengawasi Anda di rumah.

Alangkah berharganya kesempatan memberikan yang terbaik pada Tuhan.

Renungan ini aku dapat dari buku yg sudah lama aku punya, dan tak bosan2 selalu aku baca, sebagai pegangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar